Persik Kediri masih Terkendala dengan Kucuran Dana

Langkah manajemen tim kesebelasan Persik, Kota Kediri, Jawa Timur mencari terobosan keuangan ke PT Gudang Garam Tbk masih terkendala karena belum terbitnya aturan sponsorship dari Badan Liga Indonesia (BLI) PSSI. Padahal saat ini tim berjuluk Macan Putih itu membutuhkan dana untuk belanja pemain dan sejumlah akomodasi lainnya.


”Kami sudah menemui direksi Gudang Garam serta mengajukan proposal kerja sama. Ada lampu hijau, tapi masih kendala karena belum terbitnya aturan manual liga khususnya soal pemasangan logo. Kami memahami posisi Gudang Garam sebagai lembaga bisnis. Untuk itu kami masih menunggu,” kata Iwan Budianto, ketua bidang Status dan Alih Status PSSI yang kini kembali pulang ke Kediri untuk menangani Persik, Rabu (19/3), di sela-sela memantau latihan anak asuhnya.

Menurut Iwan, PSSI telah memberi isyarat secara lisan diizinkannya pemasangan logo produsen rokok lain, meski sponsor utama Liga Indonesia adalah PT Djarum Kudus. Bagi Persik yang berbasis di Kediri, hal itu merupakan isyarat positif untuk menutupi kebutuhan dana yang kini baru memiliki Rp 7,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

”PSSI membolehkan pemasangan logo produsen rokok atau perusahaan lain di kostum bagian dada. Sedangkan PT Djarum selaku sponsor utama berhak memasang logo di lengan kanan kostum pemain sebagai title kompetisi. Namun aturan detailnya masih digodok di PSSI,” kata Iwan.

Iwan yakin Gudang Garam tidak tinggal diam ketika Persik mengalami kekurangan finansial. Sebab ada sisi kepentingan sosial yang sama antara Persik dan Gudang Garam, yakni menyangkut pemberdayaan masyarakat Kediri. Bagi mayoritas warga Kota Kediri dan sekitarnya Persik dianggap sebagai pilar kebanggaan yang patut dilestarikan. ”Ditunggu saja hasilnya. Semuanya tergantung pada bunyi aturan manual yang akan diterbitkan PSSI soal sponsorship,” ujarnya.

Pada musim kompetisi Super Liga 2008, Persik baru mengantongi Rp 7,4 miliar dari APBD Kota Kediri. Dana itu sangat sedikit dibanding kucuran dana APBD pada musim kompetisi sebelumnya yang mencapai Rp 27,5 miliar. Untuk meminimalisasi penggunaan dana, musim ini Persik tidak menyediakan tempat tinggal bagi para pemain.

Hubungan finansial Persik dan Gudang Garam sempat terhenti saat PSSI mengeluarkan larangan mencari sponsor dari perusahaan rokok. Sebab sponsor utama Liga Indonesia adalah PT Djarum Kudus yang juga produsen sigaret. Larangan itu membuat tim-tim yang selama ini ditopang sejumlah pabrik rokok kelabakan.

Sejuah ini pihak Gudang Garam menyatakan tidak akan gegabah mengambil keputusan mengingat posisinya sebagai perusahaan terbuka. Mereka juga mengaku belum menerima proposal dari Persik. ”Perusahaan kami berorientasi profit. Direksi akan mempertimbangkan agar bisa mempertanggungjawabkannya pada stakeholder (para pemegang saham),” kata Slamet Budiono, Kepala Divisi Umum, yang juga juru bicara Gudang Garam.

Menurut Slamet, sebagai perusahaan yang berlokasi di Kediri tentunya Gudang Garam berusaha membantu semua perkembangan menyangkut kehidupan masyarakat di sekitar Kediri. Namun semuanya sesuai prosedur dan kekuatan perusahaan. ”Semua langkah selalu bersandarkan pada prosedur hukum sebagai pertanggungjawaban perusahaan terbuka. Agar kami tidak salah mengambil keputusan,” kata Slamet.

Di Kutip dari : http://tempointeraktif.com

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: